JAKARTA - Gaya "Blusukan" atau menyambangi masyarakat secara langsung, tampaknya tak hanya milik Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi), semata. Sejumlah tokoh kerap melakukan aksi “blusukan” guna mengetahui kondisi masyarakat di bawah.
Mantan Wakapolda Metro Jaya, Irjen Pol Suhardi Alius, kerap turun ke bawah guna mengetahui kondisi satu-persatu anggotanya yang bekerja. Jenderal bintang dua ini lebih suka menyebut kegiatannya dengan kata 'Kluyuran'.
Hal itu diceritakannya saat peluncuran buku karya Suhardi, bertajuk "Mengubah Pelayanan Polri Dari Pimpinan ke Bawahan". Meski tidak dituliskan dalam buku tersebut, fenomena 'Kluyuran' Suhardi ini lah yang menjadi inspirasi dalam buku tersebut.
'Kluyuran' ini bertujuan memberikan motivasi secara langsung kepada anak buahnya. Dengan metode 'Kluyuran' seperti ini, bukan hanya bisa mengetahui pelayanan dari aparatnya, tapi juga bisa diketahui kesejahteraan dan tingkat kesiapan Markas termasuk masalah kebersihan Markas.
Suhardi yang kini menjabat sebagai Kadiv Humas Polri, mengamini dengan tambahan motivasi langsung dari pimpinan seperti itu, membuat kinerja anak buahnya meningkat.
"Bukan mencari kesalahan, tapi memberikan motivasi kepada mereka dan nyatanya dengan sidak seperti itu kelihatan pelayanan anak buahnya," kata Suhardi saat peluncuran buku tersebut, di sebuah rumah makan di bilangan Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (11/3/2013).
Gaya 'Kluyuran' Suhardi, ternyata sudah mulai diterapkan ketika dia menjabat sebagai Kapolres Jakarta Barat, dan mulai diintensifkan ketika dia menjabat menjadi Wakapolda Metro Jaya.
"Waktu saya Kapolres Jakarta Barat, saya pernah buat statistik, saat mendinamisasi kegiatan di lapangan, jam 17.00 WIB, saya pulang dan jam 21.00 WIB, saya kluyuran,” terangnya.
Minimal dua Polsek saya kunjungi, lanjut Suhardi, Dua Polsek satu malam, satu bulan saya lihat, saya inventarisir bisa menurunkan kriminalitas sampai 30 persen. Karena melek semua itu, Kapolseknya, Kapospolnya. Disamping kita bisa lihat semua, kebersihan Mako dan sebagainya. Ini-kan hal yang positif.
Ketika pertama kali menjabat sebagai Wakapolda, Suhardi yang berpangkat Brijen menyamar sebagai warga biasa, yang ingin melaporkan sebuah kejadian tindak kriminal. Dia melapor ke Polisi dengan menyamar tanpa menggunakan seragam, dan hanya menggunakan celana jeans dan sendal jepit.
"Jam 22.00 WIB, ke Polsek Menteng, mobil jauh saya parkirnya, saya jalan kaki, pake jeans sama sendal, kemudian lapor polisi," ceritanya.
Suhardi pun menceritakan petikan pembicaraan saat malam itu di Polsek Menteng. Padahal, laporan yang dia lakukan adalah bohong belaka.
"Ada apa? Tanya petugas Polsek itu. Saya enggak bisa baca namanya karena pakai jaket. Saya tandai dia. 'Adik saya kena hipnotis', 'Ya sudah lapor ke pospol terdekat'. 'Oh begitu pak', 'iya sana ke pospol'," cerita Suhardi dan dia memutuskan untuk pergi ke pospol.
Sebelum beranjak meninggalkan polsek, Suhardi melihat sejumlah mobil patroli yang terparkir di Polsek tersebut. Suhardi pun minta diantar ke Pospol yang dimaksud sang petugas polsek.
"Saya lihat mobil patroli banyak. Saya bilang anterin dong Pak, 'Anterin?' kata petugas itu, saya bilang nggak mau antar nih pak? Dia jawab, Kamu ini," mendapat ucapan itu Suhardi pun memutuskan untuk pergi meninggalkan polsek tersebut dan menuju ke Pospol yang dituju.
Sesampainya di pospol yang dimaksud, Suhardi menemukan bintara tua yang tengah berjaga. Dengan ramah bintara tersebut menyapa Suhardi.
"Malam, ada apa Dik? kata dia. Saya bilang, adik saya dihipnotis Pak. Lalu dia menjawab, 'oh yang tadi ke Polsek ya?' Nah ini kan berarti masih ada positifnya, yang di polsek tadi berarti nelefon ke sini."
"Terus dia bilang 'saya keliling enggak ada yang hipnotis.' Dalam hati saya bilang, memang tidak ada yang dihipnotis kok, orang laporan palsu. Lalu Saya juga diantar sampai keluar dan Saya catat nama bintara tua tadi," cerita Suhardi yang bangga dengan pelayanan Brigadir tadi.
Dari Pospol itu, kemudian Suhardi 'Kluyuran' ke Mapolsek Gambir dengan tujuan yang sama. Dalihnya pun sama, untuk melaporkan kejadian adiknya yang terhipnotis. Di Polsek Gambir ini, Suhardi diterima oleh perwira pertama yang berjaga. Bahkan sempat dirangkul untuk menanyakan duduk permasalahannya.
"Pak Adik saya dihipnotis. Terus dia tanya di mana dihipnotisnya. Saya jawab di Depan Hotel Millenium. Dia jelasin, wilayah itu masuk Tanah Abang, bukan Gambir. Gini nih, masa Wakapolda tidak tahu wilayahnya sendiri," ceritanya. Sontak peserta diskusi pun menggelakan tawa.
"Karena petugas memberi pelayanan yang baik, maka saya catat namanya, dan saya pun pergi," tutur Suhardi.
Tidak berapa lama setelah dari Polsek itu, Suhardi pun memutuskan menelfon Kapolres Jakarta Pusat, yang saat itu dijabat Kombes Hamidin. Suhardi minta dipertemukan dengan seorang bintara dan perwira pertama yang bersikap baik kepadanya, untuk menghadap ke ruangannya, serta meminta keduanya dijadikan ikon pelayanan di Polres Jakarta Pusat.
"Saya minta bintara A dan perwira B, besok ke ruangan saya. Kapolres bilang 'Salah apa pak mereka?'. Bukan, kamu nggak usah bocorin. Dan jadikan mereka ikon pelayanan kamu di Polres Jakpus. Sudah pukul 23.00 WIB-24.00 WIB, saya diterima pelayanan begitu. Itu yang saya mau. Jangan seperti Polsek Menteng," ujar Suhardi.
Keesokannya kedua orang yang dimaksud Suhardi pun datang menghadap. Mereka cium tangan dan meminta maaf. "Dia minta maaf karena nepok-nepok pundak saya," katanya.
Diakhir cerita, Suhardi menceritakan, buku yang ditulisnya ini berangkat dari pengalaman kedinasannya selama ini. Saat masa 'Kluyuran' ini, dia menemukan solusi-solusi dalam peningkatan pelayanan Polri.
"Ini berangkat dari pengalaman kedinasan, ini pengalaman lapangan dari yang real yang ada di lapangan, juga dimasukan termasuk solusi untuk menghadapi masalah di lapangan. Dari keprihatinan-keprihatinan yang ada itu, kami tulis buku ini," terangnya.
Buku setebal 99 halaman ini, berisikan tiga bagian, pertama pelayanan prima Polri, kedua mengubah pelayanan Polri dari Pimpinan ke bawahan, dan ketiga menelaah isu kontemporer termasuk konflik horizontal serta terorisme.
Secara garis besar, buku ini bercerita tentang teori kepemimpinan dalam menghadapi dan memanajemen aparatnya. Sekaligus, solusi dalam menghadapi masalah yang dihadapi aparat kepolisian, baik internal atau eksternal. Buku kedua Suhardi ini diterbitkan oleh Pensil-324 yang dicetak pada Januari 2013. Dengan halaman depan berwarna putih bergambarkan karikatur polisi. - (okzn) - .
Mantan Wakapolda Metro Jaya, Irjen Pol Suhardi Alius, kerap turun ke bawah guna mengetahui kondisi satu-persatu anggotanya yang bekerja. Jenderal bintang dua ini lebih suka menyebut kegiatannya dengan kata 'Kluyuran'.
Hal itu diceritakannya saat peluncuran buku karya Suhardi, bertajuk "Mengubah Pelayanan Polri Dari Pimpinan ke Bawahan". Meski tidak dituliskan dalam buku tersebut, fenomena 'Kluyuran' Suhardi ini lah yang menjadi inspirasi dalam buku tersebut.
'Kluyuran' ini bertujuan memberikan motivasi secara langsung kepada anak buahnya. Dengan metode 'Kluyuran' seperti ini, bukan hanya bisa mengetahui pelayanan dari aparatnya, tapi juga bisa diketahui kesejahteraan dan tingkat kesiapan Markas termasuk masalah kebersihan Markas.
Suhardi yang kini menjabat sebagai Kadiv Humas Polri, mengamini dengan tambahan motivasi langsung dari pimpinan seperti itu, membuat kinerja anak buahnya meningkat.
"Bukan mencari kesalahan, tapi memberikan motivasi kepada mereka dan nyatanya dengan sidak seperti itu kelihatan pelayanan anak buahnya," kata Suhardi saat peluncuran buku tersebut, di sebuah rumah makan di bilangan Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (11/3/2013).
Gaya 'Kluyuran' Suhardi, ternyata sudah mulai diterapkan ketika dia menjabat sebagai Kapolres Jakarta Barat, dan mulai diintensifkan ketika dia menjabat menjadi Wakapolda Metro Jaya.
"Waktu saya Kapolres Jakarta Barat, saya pernah buat statistik, saat mendinamisasi kegiatan di lapangan, jam 17.00 WIB, saya pulang dan jam 21.00 WIB, saya kluyuran,” terangnya.
Minimal dua Polsek saya kunjungi, lanjut Suhardi, Dua Polsek satu malam, satu bulan saya lihat, saya inventarisir bisa menurunkan kriminalitas sampai 30 persen. Karena melek semua itu, Kapolseknya, Kapospolnya. Disamping kita bisa lihat semua, kebersihan Mako dan sebagainya. Ini-kan hal yang positif.
Ketika pertama kali menjabat sebagai Wakapolda, Suhardi yang berpangkat Brijen menyamar sebagai warga biasa, yang ingin melaporkan sebuah kejadian tindak kriminal. Dia melapor ke Polisi dengan menyamar tanpa menggunakan seragam, dan hanya menggunakan celana jeans dan sendal jepit.
"Jam 22.00 WIB, ke Polsek Menteng, mobil jauh saya parkirnya, saya jalan kaki, pake jeans sama sendal, kemudian lapor polisi," ceritanya.
Suhardi pun menceritakan petikan pembicaraan saat malam itu di Polsek Menteng. Padahal, laporan yang dia lakukan adalah bohong belaka.
"Ada apa? Tanya petugas Polsek itu. Saya enggak bisa baca namanya karena pakai jaket. Saya tandai dia. 'Adik saya kena hipnotis', 'Ya sudah lapor ke pospol terdekat'. 'Oh begitu pak', 'iya sana ke pospol'," cerita Suhardi dan dia memutuskan untuk pergi ke pospol.
Sebelum beranjak meninggalkan polsek, Suhardi melihat sejumlah mobil patroli yang terparkir di Polsek tersebut. Suhardi pun minta diantar ke Pospol yang dimaksud sang petugas polsek.
"Saya lihat mobil patroli banyak. Saya bilang anterin dong Pak, 'Anterin?' kata petugas itu, saya bilang nggak mau antar nih pak? Dia jawab, Kamu ini," mendapat ucapan itu Suhardi pun memutuskan untuk pergi meninggalkan polsek tersebut dan menuju ke Pospol yang dituju.
Sesampainya di pospol yang dimaksud, Suhardi menemukan bintara tua yang tengah berjaga. Dengan ramah bintara tersebut menyapa Suhardi.
"Malam, ada apa Dik? kata dia. Saya bilang, adik saya dihipnotis Pak. Lalu dia menjawab, 'oh yang tadi ke Polsek ya?' Nah ini kan berarti masih ada positifnya, yang di polsek tadi berarti nelefon ke sini."
"Terus dia bilang 'saya keliling enggak ada yang hipnotis.' Dalam hati saya bilang, memang tidak ada yang dihipnotis kok, orang laporan palsu. Lalu Saya juga diantar sampai keluar dan Saya catat nama bintara tua tadi," cerita Suhardi yang bangga dengan pelayanan Brigadir tadi.
Dari Pospol itu, kemudian Suhardi 'Kluyuran' ke Mapolsek Gambir dengan tujuan yang sama. Dalihnya pun sama, untuk melaporkan kejadian adiknya yang terhipnotis. Di Polsek Gambir ini, Suhardi diterima oleh perwira pertama yang berjaga. Bahkan sempat dirangkul untuk menanyakan duduk permasalahannya.
"Pak Adik saya dihipnotis. Terus dia tanya di mana dihipnotisnya. Saya jawab di Depan Hotel Millenium. Dia jelasin, wilayah itu masuk Tanah Abang, bukan Gambir. Gini nih, masa Wakapolda tidak tahu wilayahnya sendiri," ceritanya. Sontak peserta diskusi pun menggelakan tawa.
"Karena petugas memberi pelayanan yang baik, maka saya catat namanya, dan saya pun pergi," tutur Suhardi.
Tidak berapa lama setelah dari Polsek itu, Suhardi pun memutuskan menelfon Kapolres Jakarta Pusat, yang saat itu dijabat Kombes Hamidin. Suhardi minta dipertemukan dengan seorang bintara dan perwira pertama yang bersikap baik kepadanya, untuk menghadap ke ruangannya, serta meminta keduanya dijadikan ikon pelayanan di Polres Jakarta Pusat.
"Saya minta bintara A dan perwira B, besok ke ruangan saya. Kapolres bilang 'Salah apa pak mereka?'. Bukan, kamu nggak usah bocorin. Dan jadikan mereka ikon pelayanan kamu di Polres Jakpus. Sudah pukul 23.00 WIB-24.00 WIB, saya diterima pelayanan begitu. Itu yang saya mau. Jangan seperti Polsek Menteng," ujar Suhardi.
Keesokannya kedua orang yang dimaksud Suhardi pun datang menghadap. Mereka cium tangan dan meminta maaf. "Dia minta maaf karena nepok-nepok pundak saya," katanya.
Diakhir cerita, Suhardi menceritakan, buku yang ditulisnya ini berangkat dari pengalaman kedinasannya selama ini. Saat masa 'Kluyuran' ini, dia menemukan solusi-solusi dalam peningkatan pelayanan Polri.
"Ini berangkat dari pengalaman kedinasan, ini pengalaman lapangan dari yang real yang ada di lapangan, juga dimasukan termasuk solusi untuk menghadapi masalah di lapangan. Dari keprihatinan-keprihatinan yang ada itu, kami tulis buku ini," terangnya.
Buku setebal 99 halaman ini, berisikan tiga bagian, pertama pelayanan prima Polri, kedua mengubah pelayanan Polri dari Pimpinan ke bawahan, dan ketiga menelaah isu kontemporer termasuk konflik horizontal serta terorisme.
Secara garis besar, buku ini bercerita tentang teori kepemimpinan dalam menghadapi dan memanajemen aparatnya. Sekaligus, solusi dalam menghadapi masalah yang dihadapi aparat kepolisian, baik internal atau eksternal. Buku kedua Suhardi ini diterbitkan oleh Pensil-324 yang dicetak pada Januari 2013. Dengan halaman depan berwarna putih bergambarkan karikatur polisi. - (okzn) - .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar